![]() |
| Jet Tempur Uni Emirat Arab |
Uni Emirat Arab (UAE) mengirim 12 pesawat tempur guna mendukung operasi zona larangan terbang internasional di Libya, kata seorang pejabat Amerika Serikat, Kamis (24/3/2011). "Kami sangat menghargai kontribusi mereka," kata pejabat yang tak bersedia disebut namanya itu kepada AFP.
Pejabat tersebut tidak mengonfirmasi laporan-laporan pers bahwa pesawat-pesawat tempur Uni Emirat itu terdiri dari enam F-16 dan enam Mirage. UEA adalah persekutuan tujuh emirat di Semenanjung Arab yang kaya berkat minyak bumi; Dubai, Abu Dhabi, Ajman, Ras al-Khaimah, Sharjah, Umm al-Qaiwain, dan Fujairah.
Seorang pejabat senior militer AS mengatakan, lebih dari 350 pesawat sekarang mengambil bagian dalam operasi koalisi terhadap Libya, separuh lebih sedikit dari jumlah itu adalah pesawat Amerika Serikat.
"Jujur, koalisi telah meningkatkan jumlah dan kamampuannya setiap hari," kata Laksamana Madya William Gorthney, Direktur Staf Gabungan. Ia menyatakan, "lebih dari 350 pesawat terlibat dalam kapasitas itu. Hanya sedikit lebih dari separuh milik AS."
Sementara itu, Pemerintah Libya menyatakan, korban sipil yang tewas akibat serangan udara pasukan Barat selama lima hari telah mencapai hampir 100 orang, dan Tripoli menuduh negara-negara Barat berperang untuk membantu pemberontak.
Mussa Ibrahim, juru bicara Pemerintah Libya, mengatakan, "Apa yang terjadi saat ini adalah negara-negara Barat berperang di pihak pemberontak. Ini tidak diizinkan oleh resolusi PBB.
Pejabat tersebut tidak mengonfirmasi laporan-laporan pers bahwa pesawat-pesawat tempur Uni Emirat itu terdiri dari enam F-16 dan enam Mirage. UEA adalah persekutuan tujuh emirat di Semenanjung Arab yang kaya berkat minyak bumi; Dubai, Abu Dhabi, Ajman, Ras al-Khaimah, Sharjah, Umm al-Qaiwain, dan Fujairah.
Seorang pejabat senior militer AS mengatakan, lebih dari 350 pesawat sekarang mengambil bagian dalam operasi koalisi terhadap Libya, separuh lebih sedikit dari jumlah itu adalah pesawat Amerika Serikat.
"Jujur, koalisi telah meningkatkan jumlah dan kamampuannya setiap hari," kata Laksamana Madya William Gorthney, Direktur Staf Gabungan. Ia menyatakan, "lebih dari 350 pesawat terlibat dalam kapasitas itu. Hanya sedikit lebih dari separuh milik AS."
Sementara itu, Pemerintah Libya menyatakan, korban sipil yang tewas akibat serangan udara pasukan Barat selama lima hari telah mencapai hampir 100 orang, dan Tripoli menuduh negara-negara Barat berperang untuk membantu pemberontak.
Mussa Ibrahim, juru bicara Pemerintah Libya, mengatakan, "Apa yang terjadi saat ini adalah negara-negara Barat berperang di pihak pemberontak. Ini tidak diizinkan oleh resolusi PBB.
Sumber : Internasional.Kompas.com
19.47
budi

Posted in: 

0 komentar:
Posting Komentar