Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 April 2011

Asap Rokok Picu Risiko Hiperaktif

Ilustrasi
Menghindarkan anak-anak dan ibu hamil dari paparan asap rokok di lingkungan merupakan hal penting dalam upaya mencegah anak dari ancaman penyakit.

Studi terbaru yang digagas Frank Bandiera dari University of Miami Miller School of Medicine menunjukkan, paparan asap rokok di lingkungan (second handsmoke) dapat meningkatkan risiko anak-anak mengalami depresi dan gangguan perilaku termasuk hiperaktif.

Penelitian ini memperkuat bukti bahwa anak-anak dari seorang ibu yang merokok semasa hamil berpotensi mengalami masalah gangguan perilaku. Paparan asap rokok juga berkaitan dengan gangguan kesehatan lainnya seperti penyakit pernapasan dan jantung pada anak-anak.

"Sudah saatnya untuk mencegah anak-anak terpapar asap," kata Dr. Bruce Lanphear, kepala Children's Environmental Health Center di Cincinnati, Amerika Serikat.

"Bukti sudah cukup untuk mencegah penyakit-penyakit yang disebutkan, sayangnya hal itu tidak kita lakukan," tambah Lanphear yang tidak terlibat dalam studi.

Bandiera dalam studinya melibatkan sekitar 3.000 anak berusia antara 8 hingga 15 tahun. Kadar kotinin -  yang terbentuk setelah nikotin terurai  - dalam tubuh anak-anak diukur. Anak-anak yang kadar kotininnya sangat tinggi dianggap sebagai perokok aktif, sehingga  tidak dilibatkan dalam studi. Hasil penelitian ini dimuat dalam Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine

Setelah memperhitungkan sejumlah faktor seperti usia dan ras, peneliti menemukan bahwa anak laki-laki yang terpapar asap rokok memiliki kecenderungan menunjukkan gejala hiperaktif, depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku lainnya. Sedangkan anak perempuan yang terpapar asap rokok  hanya menunjukkan gejala hiperaktif dan kecemasan.

Walau begitu, jumlah anak yang didiagnosa positif mengalami kelainan tersebut rendah. Hanya ditemukan 201 anak atau sekitar 7 persen anak  yang dinggap layak didiagnosa  positif ADHD, 15 anak lainnya positif mengidap depresi dan 9 anak mengalami gangguan kecemasan.

Para peneliti mengakui, memang sulit untuk memisahkan dampak paparan asap rokok dari kondisi atau kelainan yang disebabkan oleh ibu hamil yang merokok saat masa kehamilan.

Dalam komentar yang dilampirkan dalam riset ini, Dr. Jonathan Samet dari Keck School of Medicine of the University of Southern California menyatakan pentingnya dilakukan studi lebih jauh untuk menentukan bagaimana sebenarnya paparan asap rokok dapat memengaruhi otak bayi.

Bandiera juga mencatat bahwa studi ini tidak dapat membuntikan bahwa paparan asap menyebaban gangguan mental dan perilaku . Tetapi untuk saat ini, para orang tua sebaiknya menjauhkan  anak-anak mereka dari paparan asap rokok.

Lanphear menegaskan, meski saat ini belum ada bukti definitif yang mengaitkan paparan asap rokok di udara (secondhand smoke) dengan gangguan mental, akan sangat mengejutkan bila tidak ditemukan hubungan di antara keduanya.

Sumber : health.kompas.com

Sabtu, 09 April 2011

3 Alasan Olahraga Pagi Lebih Baik


Pusat-pusat kebugaran umumnya dipenuhi pekerja kantoran yang berlatih kardio atau bermain alat sejak pukul 06.00 pagi. Ini hal yang menggembirakan, karena kini orang semakin sadar untuk memilih gaya hidup sehat. Mereka bahkan rela mencuri waktu di tengah kesibukan kerjanya untuk berlatih.

Bila Anda pekerja kantoran dengan jam kerja yang teratur, tak ada salahnya mencoba kebiasaan baru ini. Daripada minum kopi untuk membuat tubuh segar, mendingan berolahraga pagi, karena manfaatnya juga lebih banyak. Akan lebih baik lagi bila Anda memilih berolahraga di luar ruangan, daripada di dalam ruangan. 

Berikut alasan mengapa olahraga pagi lebih asyik:

1. Memperbaiki dan meningkatkan mood
Tidur tidak nyenyak, stres akan beban pekerjaan yang dihadapi, atau berantem dengan kekasih, bisa membuat Anda bangun tidur sambil bersungut-sungut. Mood yang sudah keburu rusak di pagi hari, akan memengaruhi perasaan Anda dalam seharian nanti. Oleh karena itu, sebelum beraktivitas, sebaiknya Anda menyempatkan diri untuk berolahraga. Penelitian menunjukkan bahwa latihan bisa mendongkrak hormon endorfin dan hormon-hormon feel-good lainnya di dalam tubuh, sehingga mampu menjauhkan rasa malas atau kesal, dan membuat Anda tersenyum sepanjang hari.

2. Membantu membakar lebih banyak kalori
Menurut para pakar kesehatan, olahraga pagi hari bisa meningkatkan metabolisme, sehingga mampu mengatur tubuh untuk membakar lebih banyak kalori sepanjang hari. Bahkan, saat Anda beristirahat pun tubuh masih membakar kalori.

3. Udaranya lebih bersih
Secara umum, kualitas udara lebih baik pada saat pagi hari, ketimbang pada siang atau sore hari. Jadi ketika Anda berjalan kaki atau jogging di sekitar kompleks perumahan pada pagi hari, Anda akan menghirup udara yang lebih bersih. Anda juga akan terpapar matahari pagi. Anda tahu kan, saat terpapar matahari pagi, tubuh menghasilkan vitamin D dalam jumlah besar. Vitamin D akan membantu menguatkan tulang Anda.

Sumber : female.kompas.com

Jumat, 08 April 2011

20 Persen Pasien Kanker Paru Terus Merokok

Ilustrasi
Meski merokok bisa memperburuk penyakit namun sekitar 20 persen pasien kanker paru, demikian juga keluarganya nekat melanjutkan kebiasaannya itu. Kebanyakan pasien berkilah sudah terlambat untuk berhenti merokok.

"Sebagian besar beralasan penyakit mereka sudah terlanjur parah jadi tak ada untungnya berhenti merokok," kata Kathryn E.Weaver, dari Wake Forest Baptist Medical Center.

Padahal, imbuh Weaver, banyak manfaat yang diraih jika pasien langsung meninggalkan hobi menghisap rokok, antara lain respon tubuh terhadap pengobatan membaik, demikian juga angka harapan hidup dan kualitas hidupnya.

Dalam penelitiannya Weaver mengamati 742 pasien kanker dan keluarganya. Ia menemukan 18 persen pasien gagal meninggalkan kebiasaannya merokok meski mereka menderita penyakit itu akibat rokok.
Sementara itu pada pasien kanker kolorektal yang tidak punya kaitan kuat dengan penggunaan tembakau, ditemukan 12 persen pasien yang membandel. 

Sedangkan pada pihak keluarga pasien kanker paru, 25 persennya tetap merokok dan 20 persen keluarga pasien kanker kolorektal. Sebagian besar keluarga yang terlibat dalam penelitian ini adalah para istri dan rata-rata berusia pertengahan.

Meneruskan kebiasaan merokok akan meningkatkan risiko terkena kanker lain dan mengurangi keampuhan terapi pengobatan. Alasan lain untuk berhenti merokok sebenarnya adalah menyembuhkan penyakit sesak napas karena kanker paru biasanya disertai penyakit paru obstruktif kronik. 

Penelitian juga menunjukkan nikotin akan menghambat efek kemoterapi sehingga keganasan kanker sulit dicegah.

"Nekat terus merokok bisa berdampak serius pada paru. Pasien bisa menderita batuk berdarah, gangguan tidur, kelelahan, serta kehilangan nafsu makan. Kehilangan rasa percaya diri dan depresi juga mungkin terjadi," kata Janine Cataldo, asisten profesor dari Universitas California di San Francisco.

"Orang yang berhenti merokok kebanyakan langsung merasakan kualitas hidup yang lebih baik," imbuhnya.

Sumber : health.kompas.com

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates